JONGGRANGAN : Terdapat Sendang Penjalin Penuh Misteri
Padukuhan Jonggrangan berada di Kalurahan Sendangrejo, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Padukuhan ini berada di pinggiran desa yang berbatasan dengan aliran sungai Progo dan Kali Krasak. Di dalamnya terdapat suatu misteri yang tersimpan. Padukuhan Jonggrangan memiliki petilasan Sendang Penjalin, Makam Penjalin, dan Gunung Tugel. Menurut cerita setempat sejak dahulu menjadi tempat-tempat menjadi jalan pintas pejalan dari wilayah Minggir menuju wilayah Kapanewon Tempel dan Magelang.
Menurut narasumber, Drs. Yuswanto (65 tahun), Padukuhan Jonggrangan merupakan salah satu Padukuhan tua di wilayah Sleman. Menurut keterangan dari narasumber, orang yang pertama tinggal di Jonggrangan dikenal dengan nama Eyang Damar. Beliau adalah utusan Raja Majapahit, Raja Brawijaya V. Pada saat itu, Arya Damar dipanggil untuk menghadap dan diperintahkan untuk babat serta tinggal di daerah yang lokasinya di tepian sungai Progo, dekat tempuran sungai Progo dan Kali Krasak, serta gunung kecil yang diberi nama Gunung Tugel. Ciri berikutnya adalah dekat tempuran dua sungai alam yang berhulu di dua gunung yang berbeda. sungai Progo berhulu dari Gunung Sindoro, dan sungai Krasak berhulu dari Gunung Merapi.
Setelah sampai pada daerah yang dimaksud oleh Prabu Kertabumi itu, Eyang Damar, melakukan babad daerah yang masih penuh alang-alang dan pepohonan besar dan lebat. Akhirnya beliau menetap di daerah itu. Ia menamai daerah itu dengan nama, Jonggrangan. Ia hidup dan bertapa dengan membangun padhepokan Eyang Damar. Selama tinggal di Padukuhan Jonggrangan kurang lebih 33 tahun, ia dikenal sebagai orang yang ahli pengobatan sampai wafatnya. Ia wafat dengan cara moksa. Moksa artinya meninggal dengan cara raga dan ruhnya menghilang sekaligus.
Di sebelah utara Padukuhan Jonggrangan, terdapat sebuah Sendang yang diberi nama Sendang Penjalin. Menurut Pak Yus terjadinya Sendang Penjalin adalah sebagai berikut. Pada saat itu, Eyang Damar mendapat kunjungan dari Sunan Kalijaga salah satu wali sanga yang dalam perjalanan menyebarkan agama Islam. Pada saat akan menjalankan shalat fardhu, disitu tidak terdapat air untuk berwudhu dan belum ada sumber air. Eyang Damar meminta Sunan Kalijaga untuk menuju arah utara. Setelah area tersebut ditelitinya, ia menancapkan tongkatnya yang berbentuk penjalin tujuh ruas. Dengan memohon ridho Allah dan berdoa, maka ketika tongkat itu dicabut, memancarlah air yang hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh warga setempat. Pada musim kemarau, sendang tersebut menjadi sumber air penting bagi masyarakat Padukuhan Jonggrangan dan sekitarnya. Beberapa warga lokal juga percaya bahwa mata air tersebut menjadi sumber air bertuah.
Sumber lain, Rusidi (63 tahun) juga menceritakan versi lain mengenai asal mula Padukuhan Jonggrangan. Menurut kaum atau rois Padukuhan Jonggrangan tersebut, orang yang babat daerah Jonggrangan adalah Kyai dan Nyi Jonggrang. Mbah Jonggrang, ia biasa disebut, dulu tinggal di Padukuhan Jonggrangan RT 3, dan dimakamkan di permakaman itu dengan nama makam Penjalin, karena berada bersebelahan dengan Sendang Penjalin. Makam tersebut dibatasi oleh aliran sungai pinggir Padukuhan dari bendung Kali Krasak. Menurut narasumber, dua orang inilah yang babat dan tinggal di Padukuhan Jonggrangan. Pada tahun 1990, makam Kyai dan Nyai Jonggrang ditata dan dibangun oleh Bapak Sujaka Joyoatmojo yang tinggal di Padukuhan Parakan Wetan, Sendangsari, Minggir.
Menurut Rusidi, Padukuhan Jonggrangan mempunyai tiga makam, yaitu makam Penjalin, makam tengah, dan makam timur. Rusidi adalah rois yang ditunjuk oleh warga dan jamaah. Awalnya dia tidak serta merta menerima jabatan itu. Pertimbangan beliau adalah karena usianya yang saat itu masih muda, dan sebagai rois harus siap dua puluh empat jam mengabdi kepada masyarakat. Beliau menerima jabatan yang merupakan panggilan hati dan butuh keikhlasan itu setelah mesuh budi, nenepi tirakat di makam leluhur dan tokoh Padukuhan setempat. Seperti makan Mbah Zaenal (sesepuh Padukuhan), dan makam Mbah Kyai dan Nyai Jonggrang (cikal bakal). Atas dorongan keluarga termasuk ayah, ibunya, beserta istrinya, Rusidi menerima jabatan itu dan melaksanakannya sampai sekarang. Saat menerima amanah itu, orangtuanya berpesan, “Jika kamu menerima amanah itu, laksanakan dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas, jangan lupa kepada leluhur kita, yaitu Kyai dan Nyai Jonggrang.” Maka beliau selalu menyebut dua tokoh cikal bakal Padukuhan Jonggrangan itu saat pangintunan atau doa dan tahlil.
Menurut Rusidi, dahulu masyarakat Padukuhan Jonggrangan banyak yang bekerja sebagai penggarap. Karena lahan pertanian sempit dan menyebabkan masyarakat tidak punya lahan garapan. Kehidupannya sangat sederhana, tetapi tenteram, tidak membedakan tingkatan dalam kehidupan. Meskipun dalam kesederhanaan, mereka tetap hidup rukun dan damai serta menjalankan tradisi Padukuhan yang masih ditaati oleh masyarakat. Antara lain tidak boleh mengadakan atau mementaskan wayang kulit. Bila dilanggar akan membawa akibat yang tidak menyenangkan. Hal itu sangat dipatuhi oleh masyarakatnya. Namun, pementasan wayang golek atau wayang thengul masih diperbolehkan.
Selain itu masyarakat yang hidup di Padukuhan Jonggrangan tidak boleh berbuat yang aneh-aneh (neka-neka), sombong, serakah, dan mau menghilangkan tradisi atau kegiatan yang dilestarikan. Apabila terdapat warga yang melanggar aturan itu, dipastikan dia akan meninggalkan Padukuhan tersebut entah dengan cara yang bagaimana. Hal seperti itu merupakan kepercayaan yang sudah mengakar, bahkan mitos tersebut sudah terbukti. Maka bagi pendatang baru, diharapkan mengikuti aturan dan kegiatan yang sudah ada, tidak boleh berbuat aneh-aneh jika ingin hidup tenteram dan damai di Padukuhan Jonggrangan. Keyakinan dan arahan itu juga diterima oleh Pak Rusidi yang ditanamkan oleh orang tuanya yang sudah almarhum.
Kehidupan masyarakat Padukuhan Jonggrangan sekarang sudah berkembang dan maju. Dahulu masyarakat hanya bekerja sebagai pekerja penggarap, sekarang mereka sudah mampu mendapatkan lahan garapan dengan cara membeli atau kerja sama. Hal ini diyakini sebagai berkah dari kerukunan dan kedamaian yang ada sebab mereka dapat hidup rukun tanpa membedakan derajat dan pangkat. Hal itu dibuktikan dengan kemajuan Padukuhan dan berkembangnya seni dan budaya di Padukuhan tersebut. Tanah garapan yang dimiliki kebanyakan merupakan lahan di selatan Pasar Balangan, sebelah timur Padukuhan Ngaran, dan juga lokasi yang lain.
Kisah Rusidi tersebut juga dibenarkan oleh Warjiman (53 tahun) yang merupakan salah satu Ketua RW di Padukuhan Jonggrangan. Menurut Warjiman, cikal bakal Padukuhan Jonggrangan sangat erat dengan kisah Mbah Jonggrang yang juga dikenal sebagai Gadhung Mlathi. Beliau adalah pendherek atau pengikut Panembahan Senopati. Beliau selalu berpakaian batik “gadhung mlati”. Beliau jugalah yang menguasai Sendang Penjalin. Maka dahulu warga dilarang memakai pakaian “gadhung mlati”, yang berpakaian itu tidak boleh melewati atau datang ke Sendang Penjalin. Beliau tinggal di wilayah Jonggrangan RT 3 dan setelah meninggal dimakamkan di makam Penjalin. Sendang Penjalin selalu dijaga kebersihannya. Oleh karena itu, setiap yang datang ke sana harus mentaati peraturan dan bersikap sopan.
Peninggalan yang ada di Padukuhan Jonggrangan yang sampai sekarang masih dijaga oleh penduduk dan dimanfaatkan adalah Sendang Penjalin, Sumur tua, Gunung Tugel, dan gua. Sumur Mbah Sopa adalah sumur tua yang sampai sekarang airnya tidak pernah surut meskipun musim kemarau. Sumur itu menjadi tempat para penglaju sekitar Padukuhan dalam mengambil air, terutama untuk minum, dan masak. Mereka membawa dirigen atau kaleng bekas tempat roti atau minyak untuk membawa air dengan jarak kira-kira 1,5 km. Mbah Sopa, dulu merupakan juru kunci Sendang Penjalin. Ia pendherek Mbah Jonggrang dalam membuka Padukuhan Jonggrangan. Sampai anak turun beliau adalah yang menjadi juru kunci sendang tersebut. Ketika wafat, Mbah Sopa digantikan oleh putranya, Pawira Asmo, berlanjut digantikan Mbah Adi Pratomo.
Sepeninggal Mbah Adi Pratomo, terjadi permasalahan siapa yang harus menggantikan beliau. Karena putranya laki-laki tidak berdomisili di Padukuhan, yang ada hanya anak perempuan. Maka sampailah permasalahan itu ke Keraton Yogyakarta karena lokasi Sendang Penjalin dan Gunung Tugel berada di tanah Sultan Ground atau tanah kasultanan. Mereka mendapat jawaban, silakan sendang dan Gunung Tugel boleh dimanfaatkan oleh masyarakat asal dijaga dengan baik. Maka saat itu ditunjuklah Suyadi, sebagai juru kunci. Namun belum sebulan dari penerimaan SK ia meninggal. Untuk saat ini, yang sering membersihkan adalah Mufid, menantu dari Mbah Adi Pratomo.
Sendang Penjalin terbagi menjadi tiga bagian. Di sebelah barat adalah Sendang dengan tiga bagian, sendang inti, sendang yang berupa kotak kecil yang sebelahnya terdapat kotak yang airnya merupakan aliran dari kamar utama. Di sebelah timur ada bangunan yang sering untuk tirakatan, terutama di malam kedua puluh satu bulan puasa. Ada yang meyakini, air sendang bisa berkhasiat membuat awet muda bagi yang sering mandi di sana. Menurut Warjiman, air sendang itu juga bisa sebagai obat. Diceritakan pada jam tertentu, jam dua belas malam, air sendang itu berubah warna kuning kira-kira selama lima menit. Air itulah yang mustajab untuk obat berbagai penyakit. Sayangnya hanya orang tertentu yang bisa melihat perubahan itu, orang yang beja. Di samping itu terdapat keyakinan seperti disampaikan Warjiman, jika ingin membuat sumur agar aman atau tidak ambrol maka buatlah bentuknya kotak seperti bentuk Sendang Penjalin. Sebab berulang orang ingin membuat sumur bentuknya lingkaran dan selalu ambruk.
Menurut Warjiman, di Gunung Tugel yang terletak di sebelah barat Sendang Penjalin terdapat masjid gaib yang dipimpin oleh Kyai Nur Sodiq. Hal itu pernah dikisahkan, ada seseorang yang diminta membaca sholawat diba atau berjanji di Padukuhan Jonggrangan. Teman-temannya menunggu di sekitar situ, tetapi hingga lama sekali dia tidak muncul. Sampai sholawatan sudah berjalan, dia datang dengan pakaian basah kuyup, ketika ditanya, jawabannya baru saja diundang sholawatan di masjidnya Pak Kyai Nursodiq di lokasi Gunung Tugel.
Sumber lain, Suhindriyo, seorang sejarawan, menyebut bahwa nama Padukuhan Jonggrangan kemungkinan ada kaitannya dengan keberadaan sendang kuna Sendang Penjalin. Menurut Suhindriyo, kata jongrang yang berarti tinggi semampai (Jawa: jonggrong-jonggrong à wanita berperawakan tinggi besar) merupakan sebutan dari Dewi Parwati atau Uma atau Durga, istri Dewa Syiwa. Kata jonggrang kemungkiann dari kata junggiri sebuah sebutan untuk Gunung Mahameru (Himalaya). Wanita dari Junggiri atau Mahameru (Kahyangan, tempat para dewa) yang berperawakan tinggi besar adalah sebutan lain dari Dewi Parwati.
Masih menurut Suhindriyo, dahulu di tepi sendang ada beberapa arca namun lenyap dan hilang, diantaranya adalah arca Dewi Durga. Penjelasan ini dikaitkan dengan nama Padukuhan Jonggrangan di tempat lain, yaitu Padukuhan Jonggrangan di Kalurahan Sendangmulya dan Jonggrangan di Padukuhan Daratan di Sendangarum yang kedua kalurahan itu berada di Kapanewon Minggir. Menurut penduduk setempat di kedua Padukuhan itu juga ada Sendang kuna yang dahulu terdapat arca Durga. Merunut fakta ini maka, sebutan jonggrangan kemungkinan besar dari akar kata jonggrang (arca Dewi Durga) yang dahulu pernah ada di komplek Sendang kuna tersebut. Jonggrangan merupakan sebutan bagi padukuhan yang terdapat arca Dewi Jonggrang atau Dewi Parwati. Kesimpulannya, pada jaman dahulu masyarakat di padukuhan itu banyak memeluk kepercayaan Hindu aliran Syiwa.
Penulis : Nursiyah