Sejarah Padukuhan Botokan

Di Padukuhan Botokan dan Sunten, Kalurahan Sendangrejo, Kapanewon Minggir, pada jaman dulu ada dua orang kyai bernama Kyai Bothok (kemudian mengganti Namanya dengan nama arab “Abdurrahman”) dan Kyai Sunthi yang mengajar agama pada warga dan para pemuda-pemudi khususnya. Kyai Bothok mengajar di wilayah sebelah selatan yang kemudian dinamakan Sunten. Di antara Dusun Botokan dan Sunte nada sebuah yang dinamakan Sendang Ngelo. Sendang Ngelo merupakan sumber mata air yang airnya sangat melimpah, airnya banyak digunakan oleh warga sekitar untuk memasak, minum, mandi, mencuci, dan kebutuhan lainnya. Air limpahannya digunakan untuk mengairi sawah-sawah yang ada di sekitarnya. Dinamakan Sendang Ngelo karena disekitar sendang banyak tumbuh pohon Elo. Sampai saat ini Sendang Ngelo masih ada dan dimanfaatkan.
Pada suatu waktu, segerombolan berandal sering dating mengganggu ketentaraman di Dusun Botokan dan Sunten. Para berandal tersebut sering menganggap warga yang pergi dan pulang dari Sendang Ngelo, maupun keamanan di kedua dusun tersebut. Setiap malam hari setelah belajarilmu agama,para pemuda dan pemudi berlatih ilmu beladiri, baik beladiri tangan kosong maupun dengan senjata. Setelah para pemuda dan pemudi pandai beladiri, Kyai Bothok, Kyai Sunthi dan para pemuka warga di kedua dusun tersebut membentuk bregada prajurit untuk menjaga dusun dan SendangNgelo. Pada akhirnya bregada prajurit berhasil mengusir para berandal tersebut, sehingga tidak dating lagi di kedua dusun tersebut. Meskipun para berandal sudah tidak mengganggu dusun lagi, namun bregada prajurit setiap saat selalu berjaga sambal belajar meningkatkan kemampuan ilmu beladiri mereka.